
Perubahan iklim global yang terjadi secara ekstrim beberapa tahun belakangan ini, dampaknya terasa kian mengkhawatirkan pada sektor pertanian. Setidaknya ada tiga hal yang bisa dirasakan langsung, yaitu naiknya suhu udara, berubahnya pola curah hujan serta naiknya permukaan air laut akibat mencairnya gunung es di kutub utara.
Menghadapi perubahan iklim ekstrim beserta segala efeknya ini, banyak pihak mendesak pemerintah (termasuk di dalamnya para ilmuwan pertanian) untuk segera menciptakan varietas unggul yang tahan terhadap perubahan iklim ekstrim.
Sebenarnya kalau hanya menghadapi perubahan iklim yang berdampak pada musim yang tidak dapat diprediksi, secara kultur teknis bisa disiasati. Contohnya untuk mengatasi kekeringan, dapat diantisipasi dengan menyediakan irigasi yang memadai dan bercocok tanam di dekat sumber mata air. Namun jika kekeringan meluas, petani bisa menanam tanaman yang tidak terlalu banyak membutuhkan air seperti tanaman palawija. Selain itu perlu juga dibuat sumur-sumur yang berfungsi sebagai tandon air, sehingga pada musim hujan air dapat tertampung dan di musim kemarau mereka masih mempunyai persediaan air di sumur-sumur tersebut.
Sedangkan untuk mengatasi masalah banjir atau kandungan air berlebih di dalam tanah, secara kultur teknis petani bisa membuat selokan atau juring-juring di sekitar tanaman. Dengan demikian ketika hujan turun maka airnya dapat segera terbuang.
Akan tetapi masalah yang dihadapi petani berkaitan dengan anomali cuaca, sering kali tidak bisa diatasi melulu dengan kultur teknis itu. Perubahan iklim yang ekstrim dan berlangsung dalam waktu cukup lama, pada akhirnya menuntut terciptanya varietas yang lebih tahan terhadap perubahan lingkungan sekitar. Varietas tersebut salah satunya adalah varietas yang tahan terhadap paparan sinar Ultra Violet (UV) matahari. Hal ini karena memang sangat sulit memanipulasi paparan radiasi UV dari sinar matahari. Sampai saat ini, satu-satunya cara untuk mengurangi paparan radiasi sinar matahari terhadap tanaman adalah dengan membuat rumah kaca (green house). Rumah kaca juga bisa meminimalisir dampak merugikan dari curah hujan yang berlebih. Namun pertanyaannya, apakah efektif membuat rumah kaca untuk lahan yang luas? Mengingat biaya pembuatan rumah kaca tidaklah sedikit.
Yang juga patut mendapat perhatian dari perubahan iklim global ini, adalah mencairnya gunung es di kutub utara. Meningkatnya permukaan air laut akan membawa pengaruh pada meluasnya kadar garam di dalam tanah. Tentu hal ini akan membawa konsekuensi pula terhadap menurunnya produktivitas pertanian karena sebagian besar tanaman tak tahan terhadap kadar garam yang terlalu tinggi di dalam tanah.
Banyak pihak, terutama pemerintah mengklaim telah menciptakan varietas unggul yang tahan hama dan penyakit tertentu serta tahan pula terhadap perubahan iklim. Namun klaim mereka adalah varietas yang sedikit lebih tahan terhadap kekeringan dan banjir, khususnya varietas padi dan sejenisnya. Hanya saja kekeringan dan banjir bukan satu-satunya dampak dari perubahan iklim ekstrim, tapi ada juga radiasi UV serta meningkatnya kadar garam di daratan. Nah, jika memang sudah ditemukan varietas unggul yang tahan terhadap hal-hal di atas, maka segera saja lepaskan varietas unggul tersebut ke pasar.
Sekedar catatan, petani jangan lagi dijadikan anak tangga untuk memoles citra politik pemerintah. Masih ingat klaim penemuan varietas padi ‘Super Toy’ yang bahkan sampai Presiden sendiri turun tangan langsung mempromosikannya? Ujung cerita varietas padi yang sempat diplesetkan ‘Super Letoy’ itu ternyata mengecewakan karena sama sekali tak sesuai dengan yang digembar gemborkan.
Oleh karena itu, klaim adanya varietas unggul harus betul-betul berdasarkan penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekedar untuk memenuhi desakan berbagai pihak atau citra politik agar pemerintah dianggap bekerja keras. Ingat, petani tidak boleh lagi dijadikan arena klaim-klaiman secara politik. Betapa pun kerasnya intrik politik ‘di sono’, petani harus terus berproduksi demi memenuhi kebutuhan hajat hidupnya sendiri dan orang banyak.
Artikel Terbaru
Kebijakan Impor Pangan Pemerintah Kian Ngawur
Pertanian indonesia berputar-putar di tempat
Reformasi agraria menuju pertanian berkelanjutan
Sektor pertanian dan kemiskinan struktural
Benih transgenik justru rugikan petani
.