
Di tengah bertebarannya alat-alat modern pertanian, sebagian petani hingga kini ternyata masih mengandalkan ternak sapi untuk membajak sawah mereka. Salah satu contohnya adalah di desa Jeruh, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Suwono, petani sekaligus pemilik sawah, mengatakan, ia lebih suka memanfaatkan sapi untuk membajak sawahnya. Jika menggunakan alat penanam padi, ia musti berpikir dua kali mengingat mahalnya biaya sewa alat yang disediakan desa, yaitu 500 ribu rupiah untuk seperempat bagian atau 2500 m2. Selain itu, ia menganggap hasil olahan sawahnya lebih bagus dengan bajakan tenaga sapi ketimbang menggunakan alat. “Kalau menggunakan alat, tanahnya menjadi padat dan padi tumbuhnya pun tidak bagus.”
Untuk membajak sawah menggunakan sapi, pada lahan seluas 2500 m2 dibutuhkan waktu 5 hari dengan lama kerja 6-7 jam perharinya. Meski proses waktunya lebih lama dibandingkan dengan menggunakan alat, Suwono mengaku tetap akan menggunakan tenaga sapi untuk membajak sawahnya. Alasannya sederhana, demi menghemat biaya. “Ya, karena biaya pupuk saja di sini sudah mahal, belum ditambah dengan obat pembasmi hama dan bibitnya, jadi lebih enak ‘sungkal’ (membajak) pakai sapi saja.”
.